pindah aktif

•Maret 26, 2009 • & Komentar

kalo mau liat2 blog irin:
www.irenerajagukguk.blogspot.com
^^
thx
Gbus

apa yang perLu

•Februari 5, 2009 • 1 Komentar

hweOOo..
halo kawan2 (ciah..
irin mau crita2 sdikit aja nih ;)
beberapa hari yang lalu irin lagi gundah2nya ni (udah biasa kalii ya?)
irin ngerasa banyak hal yang “ko gini ko gitu”
as ussualy, irin ngerasa orang lain selalu lebiiiih dari irin smua2nya.. irin ngerasa banyak ga dapetin yang irin mau.
Dan ternyata itu emang bener.

Waktu hari minggu kmaren, irin ke Greja, terus ada remaja2 yang pelayanan bawain instrumental yang oke bgt. irin keinget ama lirik lagunya yang kira-kira kayak gini:
….. dan seturut dengan Firman Tuhan, kudib’rikan apa yang perlu, suka dan derita bergantian, memperkuat imanku …..

Yuppy.. bener banget!! Janji Tuhan itu Ya & Amin. irin bener-bener ngerasainnya sekarang (dari dulu sebenernya :) ). Kalo yang dari Tuhan emang pUaling-pualiNg the BEST!!! banyak hal yang irin mau.. tapi belum tentu itu yang terbaik yang Tuhan mau buat irin. ga perlu nunggu lama malah.. kmaren aja irin dapet anugrah buat hal yang irin pengen banget tapi irin udah ga yakin lagi bakal dapet.. (nah LOh!) dengan cara yang ga irin duga.

YESUS tuh emang dahsyat banget dah pokoke! :)

Sekarang irin jadi mikir, kalo emang ada hal yang irin pengen banget tapi ga kesampean, mungkin artinya:
1. tunda, Tuhan mau ngasihnya nanti aja (indah pada waktu-NYA)

2. bukan itu, Tuhan mau ngasih yang lebih baik (pasti)

Jadi kalo sekarang irin pengen sesuatu dan belum dikasih, tenang aja! Soalnya kalo yang irin mau itu bener2 yang irin perlu, Tuhan pasti sediakan (ntah kapan & bagaimana caranya). Tapi kalo nggak, berarti itu bukan sesuatu yang baik buat irin. Dan satu yang indah, dahsyat, luarbiasa, di luar dugaan, dan pasti : Tuhan udah siapin yang paling baik buat irin.. amin! ;)

keep smiling :)

have an unsuspected day guys! ;)

ciriiiiOO… Gbus

:)

•Februari 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

:) :)

XXXXXXXXXXXXXXXXX

•Januari 27, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

>_<

ke Gereja//

•Januari 26, 2009 • & Komentar

Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka
adalah anak-anak muda – anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda
nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata,
“Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?”
“Tentu!”
“Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu
kami tentang Injil minggu lalu..?”
“Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya.”
“Lalu apa khotbah dari pastor?”
“Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah.
Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi
kekuatan, Nenek menyukai khotbah itu.”
Tom menggoda, “Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan
sesuatu dariNya?”
Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung.
Dan anak-anak lain tampak menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan
keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata,
“Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur.”

Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil ta s rajutan dan memberikannya
kepada Tom sambil berkata, “Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan
air,lalu bawa kemari!”
“Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air didalam tas rajutan….!
Nek, apa ini bukan lelucon?” tanya Tom.
“Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin
memperlihatkan kepadamu sesuatu.”

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas
yang bertetes-teskan .. “Lihat nek,” katanya. “Tidak ada air di
dalamnya.”
“Benar,” katanya. “Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang.
Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang
baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya.”

Sumber :
http://renungan-harian-kita.blogspot.com

smile

•Januari 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

smile01smilelogo_l

always makes u feel better… ^^

Raja segala raja

•Januari 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pegolf terkenal diundang raja Saudi Arabia untuk bermain dalam sebuah turnamen golf. Pegolf tersebut menerima undangan itu, dan sang raja menerbangkan pesawat jet pribadinya ke Amerika serikat untuk menjemput pegolf profosional tersebut. Mereka bermain golf selama beberapa hari, dan menikmati saat menyenangkan. Sementara pegolf itu naik keatas pesawat untuk kembali ke Amerika Serikat, sang raja menghentikannya dan berkata, “ Saya ingin memberikan kepada Anda sebuah hadiah karena Anda sudah mau datang sejauh ini dan membuat waktu ini begitu istimewa. Apapun yang Anda inginkan, apakah yang dapat saya berikan kepada Anda?”

Karena selalu bersikap sopan, pegolf itu menjawab, “oh, mohon jangan berikan saya apapun. Anda telah begitu ramah kepada saya. Saya telah mengalami waktu yang menyenangkan. Saya tidak dapat meminta apapun lagi.

Sang raja bersikeras. Ia berkata, “Tidak, saya bersikeras memberikan kepada Anda sesuatu supaya Anda selalu mengingat perjalanan Anda ke negeri kami.”

Saat pegolf itu menyadari bahwa raja itu memang bersikeras, ia berkata, “Baiklah, baik. Saya mengoleksi tongkat golf. Mengapa Anda tidak memberikan saja saya sebatang tongkat golf?”

Ia naik pesawat, dan pada perjalanan pulang, ia tidak bisa tidak bertanya-tanya tongkat golf seperti apa yang akan diberikan raja itu kepadanya. Ia membayangkan bahwa itu adalah sebatang tongkat golf yang terbuat dari emas murni dengan ukiran namanya. Atau mungkin tongkat yang bertatahkan berlian dan permata. Lagipula, ini akan merupakan sebuah hadiah dari raja Saudi Arabia yang kaya minyak.

Saat pegolf itu tiba dirumah, ia memperhatikan kotak pos dan layanan paket setiap hari, untuk melihat jika tongkat golfnya sudah datang. Akhirnya, beberapa minggu kemudian, ia menerima sepucuk surat dari raja Saudi Arabia itu. Pegolf profesional Amerika tersebut mengira bahwa hal itu aneh.

“Dimana tongkat golf ku?” ia bertanya-tanya.

Ia membuka sampulnya dan dengan terkejut, ia menemukan di dalamnya selembar akte tanah lapangan golf seluas 232 hektar di Amerika.

Kadang-kadang Raja berpikir lain dari Anda dan saya. Dan teman-teman, kita melayani Raja segala raja. Kita melayani Tuhan yang Mahatinggi, dan impian-Nya bagi kehidupan Anda jauh lebih besar dan baik dibanding yang bahkan dapat Anda bayangkan.

Diposkan oleh Yuliana
http://renungan-harian-kita.blogspot.com

Pendaki Gunung

•Januari 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yangterjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada.

Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. “Potong tali itu…. potong tali itu.

Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa…

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja….

Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.

Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.

Ya, asal kita percaya.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita “memotong tali pengait” saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?

Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

sumber: www.renungan-harian-kita.blogspot.com

GeeR

•Januari 25, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang
berusia kurang lebih 5 tahun, memasukan putranya tersebut kesekolah
musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi
seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian,di kota
tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena
ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah
terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk
dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser
mulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat
berada disampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak inipun
tidak bisa betah duduk diam terlalu lama, tanpa pengetahuan ayahnya,
ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai di redupkan, sang ayah terkejut menyadari
bahwa putranya tidak ada disampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika
melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan sedang berjalan
menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh
rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano
dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle2 Little
Star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano
mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba2 lebih dahulu, dan ia
langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Seluruh penonton
terkejut, melihat yang berada di panggung bukan seorang pianis, tapi
hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis juga terkejut, bergegas naik
keatas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi
marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang
mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, disamping anak itu, dan mulai bermain
mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan
anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat
indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan
meriah, karangan bunga dilemparkan ketengah panggung. Sang anak jadi
GR, pikirnya “Gila, baru belajar sebulan saja sudah hebat!”. Ia lupa
bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di
sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya
sempurna.

Teman2, apa implikasinya dalam hidup kita??? Kadang kita bangga akan
segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan2 besar yang telah kita
lakukan, tapi kita lupa…bahwa semua itu terjadi karena TUHAN ada
disamping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada TUHAN disamping
kita,KITA ADALAH SIA-SIA. tapi apabila TUHAN ada disamping
kita….sesederhana apapun yang kita lakukan hal itu akan menjadi
hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi
orang di sekitar kita.

Kiranya kita tidak pernah lupa bahwa ada TUHAN disamping kita. Amin.

“If GOD fixes a fix to fix you, and you fix a fix before you are
fixed, then HE will fix another fix to fix you.”

————–>>>
Guys… dapatkan lebih banyak renungan dan kisah menarik di
http://renungan-harian-kita.blogspot.com/

nb: keren bgt nih blog!! ^.^

hope in this fight

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

untitled3

this little boy also pray for my goodness… ;)